Pages

Minggu, 13 Desember 2009

Kurus karena Tidak Orgasme?

elama lima tahun menikah, ia sering merasa jengkel menyaksikan suami tidur pulas setelah menikmati hubungan seksual, sementara dia tak bisa tidur karena tidak dapat menikmati hubungan intim itu. Jika tubuhnya kini semakin kurus, adakah kaitannya dengan tidak tercapainya orgasme?

“Saya seorang istri berumur 30, suami 31 tahun. Saya sangat tertarik membaca rubrik yang dokter asuh. Dengan mengikuti masalah yang disampaikan dan membaca jawaban atau jalan keluar yang dokter berikan, saya mendapat banyak tambahan pengetahuan tentang seks.

Selama ini saya buta mengenai soal seks meskipun sudah menikah 5 tahun dan punya 1 anak. Selama ini saya melakukan hubungan suami-istri hanya karena kewajiban untuk melayani suami.

Sering saya merasa jengkel karena selesai melakukan kewajiban, suami tampak puas lalu tidur lelap. Sementara dia lelap, saya tidak bisa tidur karena masih ingin mendapatkan kenikmatan seksual, tapi tidak bisa lagi.

Sering saya tidak bisa tidur sampai lewat pukul 01.00. Tubuh pun tampak makin kurus, padahal saya tidak sakit apa-apa..

Yang ingin saya tanyakan, mengapa saya tidak dapat merasakan kenikmatan waktu melakukan hubungan suami-istri? Apakah tubuh saya yang makin kurus disebabkan hal itu? Bagaimana caranya agar saya dapat menikmati hubungan suami-istri? Apakah saya harus berterus terang kepada suami?”

Linda, Surabaya

Beritahu Suami
Memang tak sedikit suami yang tidak tahu bahwa istrinya tidak pernah mencapai orgasme ketika melakukan hubungan seksual. Karena tidak tahu, maka istri harus memberitahu.

Jadi, sebaiknya Anda berterus terang kepada suami karena masalah seksual adalah masalah pasangan suami-istri. Carilah waktu yang baik dan santai, lalu ceritakan bahwa selama ini Anda tidak pernah merasakan kenikmatan setiap melakukan hubungan seksual.

Dengan cara penyampaian yang santai, saya yakin suami tidak akan tersinggung atau merasa malu. Sebaliknya, dia menjadi mengerti apa yang terjadi selama ini.

Namun, kalau Anda merasa sulit untuk memulai pembicaraan mengenai masalah itu, Anda dapat memulainya dengan menggunakan bahan bacaan tentang seksualitas. Dengan membicarakan bahan bacaan itu, Anda kemudian dapat arahkan pembicaraan ke masalah Anda sendiri.

Tidak sejahtera
Ada beberapa hal yang dapat mengakibatkan kegagalan orgasme pada wanita. Meski begitu, intinya satu, yaitu adanya hambatan terhadap reaksi seksual sehingga tidak dapat mencapai puncak reaksi seksual yang disebut orgasme itu.

Faktor penghambatnya bermacam-macam, yaitu hubungan pribadi tidak baik dengan pasangan, adanya hambatan psikis, rangsangan seksual tidak cukup diterima, posisi hubungan seksual tidak efektif bagi wanita, dan gangguan fungsi seksual di pihak pria pasangannya.

Untuk mengatasi kegagalan orgasme itu, penyebab tersebut harus disingkirkan dulu. Setelah itu diperlukan suatu cara latihan agar dapat mencapai orgasme. Tentu diperlukan kerja sama yang baik dengan suami, di samping pengobatan yang dibutuhkan.

Mengenai tubuh yang semakin kurus, memang mungkin hal itu berpangkal pada kegagalan mencapai orgasme. Karena gagal mencapai orgasme, Anda merasa kecewa.

Beberapa keluhan yang kerap disampaikan oleh wanita yang gagal mencapai orgasme ialah sakit kepala, sukar tidur, mudah marah, dan merasa sakit di daerah pinggang bagian belakang. Kalau Anda merasa kecewa, tidak sejahtera, ditambah kurang tidur, tentu saja hal-hal itu berakibat pada penurunan berat badan.

Kalau keadaan ini dibiarkan terus, maka akibatnya tentu lebih buruk lagi. Gangguan fungsi seksual yang lebih buruk dapat terjadi. Kalau sampai hubungan pribadi dengan suami menjadi buruk, tentu keadaan ini sangat mengerikan.

Maka segeralah berbuat sesuatu bersama suami untuk kebahagiaan bersama. Segeralah berkonsultasi lebih jauh untuk mendapat pemeriksaan tenaga ahli.

Pemerintah Siapkan RUU Pengesahan FCTC

Pemerintah tengah mempersiapkan Rancangan Undang-Undang tentang Pengesahan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC bertujuan melindungi generasi sekarang dan mendatang terhadap kerusakan kesehatan, konsekuensi sosial, lingkungan, serta ekonomi karena konsumsi tembakau dan paparan asap tembakau.

Demikian diungkapkan Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan Lily S Sulistyowati melalui siaran persnya, Sabtu (12/12/2009). Dengan mengaksesi/pengesahan FCTC, nantinya Indonesia terikat pada perjanjian internasional dan diberikan tenggang waktu lima tahun (setelah konvensi berlaku) untuk melakukan upaya legislatif, eksekutif, administratif, dan atau upaya lain yang efektif.

FCTC merupakan konvensi dalam mengendalikan masalah tembakau/rokok yang mempunyai kekuatan mengikat secara hukum bagi negara-negara yang meratifikasinya. FCTC telah disepakati secara aklamasi dalam Sidang Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly) pada Mei 2003. FCTC dinyatakan efektif apabila telah ada minimal 40 negara yang meratifikasinya. Penandatanganan FCTC di mulai pada 16 Juni 2003-hingga 29 Juni 2004. Hingga akhir Februari 2004, terdapat 95 negara, termasuk European Community, yang telah menandatangani FCTC.

Setelah batas akhir penandatanganan, negara yang belum menandatangani FCTC masih bisa mengikat diri pada perjanjian tersebut melalui prosedur aksesi atau pengesahan tanpa harus didahului dengan penandatanganan. Negara yang melakukan aksesi/pengesahan harus segera melaksanakannya.

Ke Mana Warga Miskin Berobat?


setahun lebih terbaring tanpa bisa mendapatkan layanan kesehatan bagi orang miskin. Sehari-hari, Ahmad harus dibantu Anto (18), anak bungsunya, untuk memperbaiki posisi tubuh, seperti tampak pada Selasa ( 1/ 12)




Ahmad Marzuki tidak sendirian. Satu bulan terakhir ini saja, ada 12 orang di Kampung Beting yang meninggal dunia karena tidak mendapatkan layanan kesehatan yang memadai.

Ini baru di Kampung Beting, kawasan tak bertuan yang terletak di belakang Islamic Center, Koja, Jakarta Utara. Padahal, di Jakarta, banyak kantung miskin seperti ini, seperti Penjaringan, Tambora, Cengkareng, Pulogadung, Kampung Sawah, pinggir jalan kereta, dan kolong jembatan.

Para penghuni di kantung-kantung miskin biasanya pendatang yang sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta. Mereka tidak bisa lagi balik ke kampung halaman karena sudah tidak punya tanah dan keluarga.

Warga di kantung miskin ini bisa juga warga Jakarta yang tidak punya kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) karena memang tidak pernah mengurus kedua bukti kependudukan ini. Jangankan mengeluarkan uang untuk mengurus KTP dan KK, untuk makan saja mereka sulit.

Padahal, warga yang hidup di kantung miskin justru warga yang paling rentan penyakit. Di Kampung Beting, warga sangat biasa berjalan di jalan yang digenangi air. Kawasan yang tumbuh liar ini tentu saja tidak dilengkapi dengan sarana saluran pembuangan air kotor. Akibatnya, air kotor dibuang ke jalan dan menjadi sarang nyamuk, warga mudah terkena penyakit kulit, dan tentu saja juga sakit perut.

Selain itu, kesulitan ekonomi mendorong warga bekerja sebagai penjaja seks komersial yang rentan terpapar penyakit menular seksual.

Namun, bagi mereka, berobat adalah kemewahan. Apalagi mendapat perawatan di rumah sakit.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memang sudah menyediakan layanan berobat gratis bagi warga miskin melalui program Gakin. Warga kurang mampu juga bisa membuat surat keterangan tidak mampu (SKTM) untuk mendapat bantuan pengobatan.

Anggaran untuk Gakin dan SKTM tiap tahun bertambah. Tahun 2010, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menganggarkan Rp 550 miliar bagi 323.170 jiwa warga miskin, yang tercatat sebagai penduduk DKI Jakarta periode awal 2009.

Dengan anggaran sebanyak itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dien Emawati bertekad memberikan layanan yang baik bagi 100 persen warga miskin.

Namun, perlu digarisbawahi, warga miskin yang akan dilayani adalah warga miskin yang memiliki KTP dan KK DKI Jakarta. Sementara penghuni di kawasan ilegal yang miskin itu tidak akan dilayani karena mereka tidak bisa membuktikan mereka warga Jakarta walaupun mereka sudah puluhan tahun hidup di Ibu Kota.

Askeskin-Jamkesmas

Adanya warga miskin yang telantar seperti ini membuat Departemen Kesehatan memutuskan untuk menanggung pengobatan mereka. Tahun 2005, Menteri Kesehatan Siti Fadila Supari mengunjungi Kampung Beting dan melihat sendiri bagaimana kondisi warga wilayah itu. Menteri Kesehatan (Menkes) lalu menerbitkan Kartu Asuransi Kesehatan Miskin (Askeskin) sebanyak 2.869 buah.

Warga bisa berobat dengan lancar. Namun, persoalan muncul ketika Askeskin diganti dengan kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Tidak semua warga mendapatkan kartu ini. Rumah sakit menolak pasien yang memakai kartu Askeskin karena Departemen Kesehatan hanya mengganti biaya perawatan yang menggunakan kartu Jamkesmas.

Pasien tidak diterima karena kesulitan rumah sakit dan instansi terkait untuk memverifikasi apakah benar pasien itu warga miskin.

Beruntung, di Kampung Beting ada LSM Forum Bersama Penggugat Kampung Beting, yang bisa membantu memverifikasi dengan mengeluarkan SKTM. Surat ini lalu diajukan ke Departemen Kesehatan untuk dibuatkan surat jaminan ke rumah sakit.

Sayang, upaya itu kini juga terganjal. Setelah Menkes diganti, aturan tentang Jamkesmas pun berubah. Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih mengembalikan Jamkesmas ke Askeskin. Bagi warga miskin yang tak memiliki kartu Askeskin, bisa mendapat layanan kesehatan asalkan mendapat verifikasi dari dinas sosial setempat.

Di sinilah masalahnya. Warga di kantung miskin tidak ada yang punya KTP dan KK sebagai syarat yang diminta dinas sosial.

Iskandar Sitorus, Ketua Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan, beranggapan masalah ini bukti kebijakan pemerintah soal kesehatan warga miskin hanya bersifat populis. ”Kebijakan populis ini justru tidak menyentuh akar masalah. Cara ini tak akan berhasil, mengingat Indonesia tak memiliki data kependudukan yang baik,” ujarnya.

Verifikasi dari aparat pemerintah memegang peranan penting karena takut dana dipakai oleh orang yang tidak berhak. ”Kenyataan itu memang ada, tetapi warga yang benar-benar miskin jauh lebih banyak dan mereka tidak bisa menunggu pengobatan,” tutur Iskandar.

Sambil menunggu keputusan pemerintah, sebaiknya tanggung jawab pengobatan warga miskin diambil alih oleh rumah sakit. Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 1992 menetapkan, setiap rumah sakit harus mengalokasikan 20 persen tempat tidurnya bagi warga miskin. ”Adanya Jamkesmas atau Askeskin membuat rumah sakit melupakan UU ini,” kata Iskandar

Menyenangkan, Tiga Jam Tanpa Kendaraan Berseliweran


Bersama ibunya, Iham (10), siswa kelas lima sekolah dasar yang tinggal di Babakan Pasar, Bogor Tengah, Kota Bogor, Minggu (13/12/2009) pagi, menikmati udara pagi sambil berjalan nyeker di Jalan Jalak Harupat, Kota Bogor.

"Mudah-mudahan setiap Minggu, ya Bu," kata Iham.

Sang ibu, yang menenteng sandalnya karena kelingking kaki Iham lecet, hanya tersenyum. Anak dan ibu itu tengah asyik menikmati jalan kaki di tengah-tengah Jalan Jalak Harupat.

Iham dan ibunya, bersama ratusan warga Bogor lainnya, Minggu pagi ini sekitar tiga jam, memang dapat menikmati asyiknya berjalan-jalan di salah satu jalan utama Kota Bogor, yakni Jalan Jalak Harupat. Tanpa khawatir terserempet kendaraan. Sebab, pagi itu untuk pertama kalinya di Kota Bogor diterapkan Hari Tanpa Kendaraan (car free day). Meski hanya berlangsung sekitar tiga jam, mulai pukul 06.00, bukan sehari penuh. Itu pun hanya sepanjang Jalan Jalak Harupat dan Jalan Halimun serta sebagian Jalan Salak dan Jalan Pangrango.

Namun, paling tidak keinginan Iham agar setiap Minggu dapat jalan di situ tanpa takut terserempet kendaraan akan terwujud. Sebab, Kepala Satuan Lalu Lintas Kota Bogor Ajun Komisaris Ari Purwantono memastikan, program Hari Tanpa Kendaraan (HTK) akan berlanjut setiap Minggu.

"Program ini akan terus kami gulirkan. Tapi, kemungkinan HTK menjadi sehari penuh tiap Minggu, rasanya sulit. Sebab, banyak wisatawan domestik dari luar Bogor yang banyak berkunjung ke sini, yang kepentingannya juga perlu kita akomodasi," ujarnya.

Menurut Ari Purwantono, program HTK itu salah satu aksi nyata yang dilaksanakan Polres Kota Bogor berkaitan dengan program 100 hari kerja dari Mabes Polri, dalam hal ini program Babinkamtibmas.

"Kami ingin berpartisipasi aktif menyosialisasikan perlunya udara bersih dan tertib berlalu lintas, demi kesehatan dan kenyamanan masyarakat di lingkungannya," tutur Ari.

Dia berharap Pemerintah Kota Bogor dan masyarakat Bogor akan mendukung penuh. Saat ini pelaksanaan HTK menjadi tangung jawab sepenuhnya Polres Kota Bogor, dibantu secukupnya dari Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishub Kominfo) Kota Bogor dan Organda Kota Bogor.

Pada HTK pertama ini, Kompas tidak melihat kehadiran Wali Kota Bogor Diani Budiarto dan Kepala Dishub Kominfo HA Syarief. Yang terlihat berkeliling dengan sepedanya adalah Sekretaris Daerah Kota Bogor Bambang Gunawan ditemani Ari Purwantono.

Yang bergembira bersepeda lainnya adalah Kepala Kantor Kesbang Kota Bogor Endang M Kendana, yang bersepeda onthel. Dia memimpin rombongan Bogor Onthel Community, melintasi Jalan Jalak Harupat satu rit, dari depan gerbang utama Istana Bogor sampai persimpangan Internusa samping rumah dinas Wali Kota Bogor di Jalan Pajajaran.

Sedangkan Kepala Polres Kota Bogor Ajun Komisaris Besar Nugroho S Widodo bersama wakilnya Komisaris Arief Rachman terlihat memutari Lapangan Sempur, juga dengan sepeda masing-masing.

Empat remaja putri warga Jalan Malabar, Bogor Tengah, menyatakan senang dapat berlenggang kangkung dan bergurau di tengah jalan raya.

"Kami hampir setiap Minggu pagi jalan kaki dari rumah main ke Lapangan Sempur. Baru kali ini merasa lebih nyaman untuk ke sini karena enggak ada mobil lewat. Enggak berisik suara mobil. Udara kayaknya juga lebih bersih, ya," kata Nawa, salah seorang dari mereka, yang ditemui tengah bersendau gurau di Jalan Halimun.

Sementara seorang remaja, yang mengaku dari Leuwiliang, nongkrong murung dengan peluit putih di tangannya, di bawah pohon di persimpangan Jalan Halimun itu. Tas ransel hitamnya digantung di cabang pohon. Mobil belum ada yang lewat.

"Enggak boleh lewat oleh polisi, jadi saya juga belum dapat duit. Biasanya pagi begini sudah dapat Rp 5.000," kata remaja pak ogah itu sedih.

Yang agak sedih karena berlakunya HTK lainnya adalah Ny Mariyah, pedagang nasi pecel yang biasa mangkal di Lapangan Sempur setiap Minggu pagi.

"Saya enggak tahu mulai pukul 06.00 angkot enggak boleh lewat. Saya jadi kecapean menenteng barang-barang dan dagangan dari depan Istana ke sini. Gara-gara kendaraan enggak boleh masuk, yang main ke lapangan juga sepi. Jam segini biasanya dagangan saya sudah tinggal sedikit, sekarang masih banyak," kata perempuan paruh baya asal Solo itu, sekitar pukul 08.00.

Barangkali karena hari pertama HTK, memang warga Bogor penggemar olahraga atau jalan-jalan pagi di Lapangan Sempur sepanjang HTK tidak banyak yang turun ke lapangan. Kerumunan dan berbagai aktivitas mereka terlihat membeludak di badan Jalan Jalak Harupat. Sebab, mumpung ada kesempatan dapat lari-lari, bermain-main, dan mengobrol di pinggir atau tengah jalan, tanpa takut ditabrak mobil atau motor.

Mudah-mudahan saja HTK dapat diperpanjang jam berlangsungnya dan luas jangkauannya. Sebab, asyik sekali jika bisa bersepeda atau jalan kaki mengelilingi seputar Kebun Raya Bogor, tanpa khawatir diseruduk kendaraan dan kesal karena naik turun trotoar tinggi tidak karuan.

Artinya, HTK diberlakukan di Jalan Jalak Harupat, Jalan Ir Juanda, Jalan Otto Iskandar Dinata, dan Jalan Pajajaran, yang mengelilingi kebun istimewa milik orang Bogor itu.

"Yang kayak gini (HTK) kan meniru Jakarta. Tapi di sana tidak punya Kebun Raya. Harusnya mobil enggak boleh lewat di jalan sekeliling Kebun Raya. Jadi, (HTK) Bogor bisa lebih keren dari Jakarta," kata Lusi, remaja SMA yang tinggal di Sempur.

Hentikan Polemik soal Rekaman Sri Mulyani-Robert Tantular


Anggota Pansus Angket Century Bambang Soesatyo mengatakan ingin mengakhiri polemik tentang rekaman antara Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan mantan Direktur Utama Bank Century Robert Tantular.

"Kami dari Pansus Century menilai hal ini sudah tidak produktif lagi. Sebaliknya, ini kontraproduktif terhadap upaya Pansus membongkar kejahatan Bank Century mulai dari hulu hingga hilir," ujar Bambang, Minggu (13/12/2009) di Jakarta.

Bambang mengatakan, rekaman ini merupakan pengalihan isu Bank Century ke hal-hal di luar substansi. "Kita anggap ini sebagai penggembosan dan pemandulan terhadap upaya Pansus mengungkap kasus ini, mulai dari pembuat kebijakan yang keliru ini hingga ke penikmat terakhir," tambahnya.

Namun, permintaan ini disangkalnya sebagai sikap ragu-ragunya setelah Wakil Presiden Boediono, Sabtu kemarin, mengatakan, Robert tidak ikut dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan di Gedung Departemen Keuangan. "Ini bukan soal ragu atau tidak ragu. Saya tetap yakin suara itu adalah suara Robert Tantular," tambahnya.

Sebelumnya, mantan Sekretaris KSSK Raden Pardede mengatakan, suara Robert yang disangkakan Bambang sebenarnya suara Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi Marsillam Simanjuntak. "Sebenarnya ternyata itu (suara) Marsillam yang lagi menekankan pasal-pasal sebelumnya yang bisa dipakai untuk pencegahan dan penanganan Bank Century," ujar Raden.

Menanggapi hal ini, Bambang mengatakan, "Justru inilah yang akan saya konfirmasikan pada persidangan Pansus mendatang."

Komunitas Onthel Batavia Menggowes Jakarta


Kalau sudah hari Minggu begini, pengguna sepeda di Jakarta pasti lebih banyak daripada hari biasanya. Apalagi, sekitar 80 sepeda dari Komunitas Onthel Batavia (Koba) hari ini tur keliling Jakarta.

Mereka memulai perjalanannya dari Monas ke Jalan Thamrin, Bundaran HI, Jalan Sudirman, berlanjut ke Senayan, lalu ke daerah Menteng dan kembali lagi ke Monas. Perjalanan mereka kurang lebih memakan waktu satu setengah jam.

Pawai sepeda yang dibuka oleh Sri Hartati Fauzi Bowo, istri dari Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, adalah satu rangkaian acara yang memeriahkan acara Festival Monas yang diadakan di Monas, Minggu (13/12/2009).

Komunitas yang telah berdiri sejak 17 Agustus 2005 tersebut saat ini memiliki anggota aktif dengan jumlah 500 orang. Ditanya apakah sehari-hari mereka menggunakan sepeda onthel untuk berkegiatan, mereka menjawab, "Iya sehari-hari kami pake onthel juga," ujar Andi, salah satu pengurus Koba.

Koba hari ini tampak bersemangat, lengkap dengan pakaian khas betawi dan Bendera Merah Putih yang menghiasi onthel mereka. Walaupun "betawi", mereka tak selalu hanya menggunakan pakaian khas betawi. "Kami pernah pakai koteka juga," seloroh Andi.

Setiap Minggu pagi komunitas sepeda onthel tersebut berkumpul di Bundaran HI. "Minggu depan kami gowes lagi ke Lampung," kata Andi.

Pria berambut uban lebat tersebut juga mengatakan bahwa setidaknya Koba mempunyai tiga acara dalam satu bulannya. Anggota Koba tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga daerah-daerah lain. "Wah... anggota kami bermacam-macam," tandasnya.

Penggunaan sepeda kian marak di kota-kota besar di Indonesia, seiring menggemanya isu pemanasan global. Ingin bergabung dengan Koba?

"Delosor" Jadi Tren Goyang Anis Merah


Dalam perlombaan burung berkicau, seekor anis merah dianggap bagus jika sang burung tampil dengan gaya khas dari awal hingga akhir lomba. Terlebih jika gaya sang burung mengikuti tren goyang saat ini.

Menurut Neo, seorang penghobi anis merah, gaya goyang yang sedang tren saat ini adalah gaya doyong atau delosor. Seekor anis yang sedang doyong atau delosor membuka ekornya dan bergerak cepat ke kanan dan ke kiri sambil terus berputar.

"Bagus kalau goyangnya lagi tren. Yang nge-tren itu doyong atau delosor. Gayanya buka ekor, sama goyang kiri kanannya cepet, dan bunyi terus," ujar Neo saat diwawancara di arena lomba burung berkicau Presiden Cup di Parkir Timur Senayan Jakarta, Minggu (13/12/2009).

Gaya seekor burung menjadi karakteristik tersendiri. Gaya tersebut juga bisa dilatih atau ditiru burung lain. Selain gaya, seekor burung juga dapat meniru suara atau nada nyanyian burung lain, seperti anis merah milik Neo yang meniru nada bernyanyi burung jalak suren, love bird, atau kapas tembak.

"Gaya udah karakter, gaya dasar burung. Bisa dilatih, yang melatih kan masteran, isian suara. Biasanya jalak suren, yang jadi master, love bird, kapas tembak," kata Neo.

Suara burung yang mengikuti lomba juga harus mengikuti tren. Neo menambahkan, yang sedang tren saat ini untuk anis merah adalah yang bersuara kasar, dan ada tonjolan. "Tren isian yang kasar, ada tonjolan, kalau cuma siulan biasa ya enggak bagus," imbuhnya.

Anis merah adalah salah satu jenis burung berkicau yang dilombakan dalam lomba burung berkicau Presiden Cup yang digelar di Parkir Timur Senayan Jakarta pada hari ini.

Telkom-Dinas Pendidikan Kontrol Siswa Nge-net


Bertempat di Balairung Telkom Divre V Jatim, Jl Ketintang 156, Sabtu (12/12) siang tadi, ratusan guru dan siswa mengikuti sosialisasi Implementasi program Internet Sehat dan Aman (INSAN) yang digagas Menteri Komunikasi dan Informatika RI pertengahan bulan lalu.

Menurut Eddy Kurnia, Vice President Public and Marketing Communication Telkom, keberadaan internet memang banyak memberikan menguntungkan dan kemudahan. Namun tidak dipungkiri pula bahwa kemajuan teknologi ini juga sarat pengaruh negatif. Terlebih, saat ini siswa SMA, SMP, hingga SD mulai mengenal dan kerap menggunakan internet.

“Ini yang membuat Telkom mewujudkan program Menkominfo melalui program Corporate Social Responsibility dengan nama DNS (Domain Name Server) Nawala serta bekerjasama dengan AWARI (Asosiasi Warnet Indonesia),” kata Eddy.

DNS Nawala, Eddy menyebutkan, digunakan secara gratis oleh pengguna internet di Indonesia. Secara spesifik, DNS Nawala akan mengurangi konten negatif yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan, nilai agama, norma sosial, adat istiadat dan kesusuliaan bangsa Indonesia seperti pornografi dan perjudian. “DNS Nawala juga akan memblokir situs internet yang mengandung konten berbahaya seperti malware, situs phising (penipuan) dan sejenisnya,” ucap Eddy.

Sementara itu, menurut data yang dicatat oleh Gatot Indra, Senior Manager Marketing and Sales Telkom Divre V Jatim, pihaknya telah melakukan survei dan riset tentang siswa SMP, SMA yang memanfaatkan jasa internet. Dari survey, frekuensi pemakaian internet oleh siswa SMP setiap harinya 8 persen dan siswa SMA 9 persen.

“Ini menandakan setiap hari para siswa selalu membuka internet. Kalau tidak kita awasi dan kontrol, jelas akan menimbulkan kekhawatiran sendiri,” ucap Gatot.

Bahkan, lanjut Gatot, tercatat sebanyak 81 persen siswa menggunakan internet melalui rental atau warung internet. “Terlebih kalau malam. Sangat banyak yang datang ke warnet, mayoritas pemakaianya adalah pelajar,” ucapnya.

Lantas, bagaimana tanggapan Dinas Pendidikan? Sahudi, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya yang ditemui siang tadi mengatakan, terobosan dari Telkom dengan programnya dinilai sangat tepat dan sesuatu yang patut diapresiasi. “Tepat untuk mewujudkan program Internet Sehat dan Aman,” ucapnya.

Sahudi menyebutkan, pihaknya akan menindaklanjuti program ini. Tidak lama lagi, Dinas Pendidikan akan mengajak pimpinan sekolah dan menggandeng orang tua siswa untuk menindaklanjutinya.

“Tindaklanjutnya seperti apa, nanti akan dibicarakan dengan institusi sekolah serta pihak terkait lainnya. Yang jelas, program ini sangat membantu mengontrol siswa-siswa yang menyalahgunakan jasa internet,” jelas mantan Kepala SMAN 15 tersebut.

Support

Nyang baca si korannya koran myspace web counter
web counter code orang Lho!!