Pages

Rabu, 09 Desember 2009

Gubernur Sambut Baik Demo Peringatan Anti Korupsi




Ambon - Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu menyambut baik aksi demonstrasi yang dilakukan berbagai elemen mahasiswa untuk memperingati Hari Antikorupsi Se-dunia, di Ambon, Kamis. "Peringatan Hari Antikorupsi Se-dunia perlu dilaksanakan secara baik sebagai wujud komitmen masyarakat, terutama generasi muda, untuk bersama Pemerintah memberantas korupsi di Indonesia, termasuk Maluku," kata Ralahalu di,hadapan ratusan mahasiswa yang menggelar aksi demo di halaman kantor Gubernur Maluku, Kamis. Gubernur menegaskan akan memproses hukum anak buahnya yang terbukti bersalah melakukan tindakan korupsi. "Bila terbukti akan diambil tindakan tegas karena proses penegakan hukum harus dilakukan untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa," ujarnya. Dia juga menegaskan, tidak melakukan "tebang pilih" dan mempersilahkan aparat penegak hukum untuk memproses pelaku tindak pidana korupsi. "Hukum harus menjadi panglima di tanah air. Siapa pun yang bersalah harus diproses hukum agar membuat jera dan tidak ada lagi yang melakukan tindakan korupsi karena dampaknya menghambat proses pembangunan di daerah ini," katanya. Sedangkan Kapolda Maluku Brigjen Pol. Totoy Herawan Indra mengatakan, jajaran Kepolisian sepenuhnya mendukung pemberantasan tindak pidana korupsi baik yang dilakukan Pemerintah maupun masyarakat dan mahasiswa. "Tanggungjawab aparat kepolisian yakni memberantas berbagai tindak pidana korupsi. Saya juga berharap masyarakat mendukung tugas kepolisian maupun pemerintah daerah," ujarnya. Ditanya soal pengamanan aksi demo, Kapolda mengatakan, pengamanan yang dilakukan personilnya di lapangan tidak terlalu berlebihan. "Kami sangat berterima kasih karena aksi demo berjalan kondusif, ini menandakan kesadaran masyarakat untuk menjaga kondisi keamanan di Kota Ambon dan Maluku semakin tinggi," kata dia.

Sejumlah komponen pemuda yang melakukan aksi demonstrasi di Ambon yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ambon, Ikatakan Pelajar Muhamadyah (IPM), Ikatakan Mahasiswa Muhamadyah (IMM). Liga Nasional Mahasiswa untuk Demokrasi (LMND), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ambon. Dalam orasinya pera demosntran meminta Gubernur Maluku memberantas berbagai tindak pidana kasus korupsi di jajaran birokrasi Pemrov Maluku. Aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa itu mendapat pengawalan personil kepolisian Polda Maluku dan Polres Pulau Ambon dan Pulau Pulau Lease dibantu Satuan Polisi Pamong Praja Pemprov Maluku. Selain menggelar aski mimbar bebas di Kantor Gubernur Maluku, aksi serupa juga di gelar di Kantor Kejaksaan Tinggi Maluku, Balai Kota Ambon, Monumen gong perdamian dunia, perempatan jalan Pos Polisi Kota dan perempatan Masjid raya Al fatah Ambon.

Sehari Bersama Massa Demo Bayaran


Tak semua orang yang mengikuti aksi hari antikorupsi Rabu 9 Desember 2009 terpanggil untuk menyuarakan semangat antikorupsi.

Diantara ribuan peserta, ada juga massa demo bayaran. Orang-orang ini 'terorganisir' secara profesional.

Seperti halnya massa yang berasal dari Jalan Tendean, kawasan Mampang. Umumnya mereka tidak tahu apa yang mereka perjuangkan kemarin. Namun mereka bertindak layaknya 'aktivis' antikorupsi.

Pemantauan VIVAnews, massa yang terdiri dari beberapa remaja ini tiba-tiba muncul dari sebuah gang di dekat stasiun pompa bensin milik perusahaan asing, Shell pada pukul 9. 30 WIB.

Mereka berkumpul di pinggir jalan dengan membawa pengeras suara (megaphone), seikat belahan bambu, satu bendel poster, dan spanduk sebagai perangkat aksi.

Tak berselang lama, sebuah metromini menghampiri mereka. Mereka pun naik dan berhenti di sebuah warteg, di samping pompa bensin Shell. Ternyata di sana sebagian massa sudah menunggu.

Sang koordinator, Surip segera mengecek kesiapan semua anggotanya. "Hitung dulu, sudah pas 35 atau belum," kata surip memerintah salah satu anggotanya.

Ternyata, setelah dihitung, jumlah anggotanya hanya 27 orang, kurang 8 orang dari jatah yang seharusnya, yakni 35 orang. Wartawan VIVAnews pun menawarkan diri untuk ikut dalam rombongan untuk menambah jumlah kuota itu.

Namun, mereka tak begitu saja menerima. "Nanti saja, kita cari orang di sini dulu. Kalau tetap kurang nanti kamu boleh ikut," kata Surip.

Tetapi, setelah beberapa saat ditunggu, kuota itu tidak terpenuhi, sehingga wartawan VIVAnews diperbolehkan ikut dalam rombongan.

Peserta masih saja kurang, Surip lalu mengambil beberapa orang pedagang asongan dan pengamen di kawasan lampu merah Mampang Prapatan.

Dalam perjalanan, di dalam metro mini, sang koordinator, Surip memberikan penjelasan pendek kepada anggotanya. "Kita akan berdemo di (Istana) Wapres. Memperingati hari korupsi dan soal Bank Century," jelasnya singkat.

Namun penjelasan sang koordinator tidak begitu dihiraukan anggotanya. Mereka malah asyik berbincang satu sama lain. Dalam salah satu pembicaraan, terungkap bahwa mereka mendapatkan bayaran. Namun, belum jelas berapa uang yang dijanjikan.

"Nanti saja setelah pulang minta kepada Surip," kata salah seorang dari mereka, ketika ditanya berapa bayaran yang akan diterima.

Kelompok Surip ternyata tidak sendirian dalam aksinya. Di depan Istana Wapres, mereka bergabung dengan massa dari kawasan Pasar Minggu dan elemen mahasiswa. Ketiga kelompok ini melakukan koordinasi untuk mempersiapkan aksi.

Terlihat, Surip berkumpul dengan beberapa pimpinan dari elemen mahasiswa dan pimpinan massa dari Pasar Minggu.

Disaat melakukan aksi di depan Istana Wapres, VIVAnews mencoba bertanya kembali kepada beberapa anggota aksi mengenai besaran bayaran yang mereka terima.

Salah satu peserta Dayat, dari Pasar Minggu mengaku mendapatkan bayaran Rp 20.000 dari sang koordinator.

"Lumayan 20 ribu. Tapi nanti dibayarnya setelah demo, waktu balik," kata Dayat yang sehari-hari menarik odong-odong.

Dayat dan beberapa temannya mengaku tidak tahu dan tidak mempedulikan isu dalam demonstrasi itu. Yang dia tahu, hanya sebatas arahan singkat dari koordinator.

"Yang saya tahu tentang korupsi. Itu aja," kata dia. "Yang penting ikut aja, dapat duit. Dari pada di rumah nggak dapat duit," tambah dia.

Dayat yang sempat diwawancarai wartawan sebuah stasiun TV 'gagal' unjuk diri sebagai aktivis antikorupsi.

Dia bahkan tidak tahu tokoh-tokoh seperti Boediono dan Sri Mulyani yang disebut-sebut dalam orasi, dua nama yang mereka demo.

"Kalau Pak Boediono tahu, Wapres. Kalau yang Sri, nggak ngerti saya," kata Dayat.

Peneliti LAPAN: Fenomena 2012 Siklus 11 Tahunan




Jakarta (ANTARA) - Seorang peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan fenomena meningkatnya aktivitas matahari yang menurut ramalan suku Maya terjadi pada 2012 tidak perlu dikhawatirkan apalagi dihubungkan dengan hari kiamat.

Peneliti astronomi dan astrofisik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset Indonesia Dr Thomas Djamaluddin Msc, Rabu, menyatakan tidak ada yang istimewa dari fenomena alam 2012 itu karena hanya siklus 11 tahunan meningkatnya aktivitas matahari.

"Fenomena 2012 yang menghebohkan masyarakat lebih banyak berawal dari ramalan suku Maya, bukan berasal dari alasan ilmiah. Kalau kemudian memang ada fenomena 2012 alasan ilmiahnya apa? Tapi yang lebih banyak diungkapkan justru bukan sainsnya," kata Thomas usai dikukuhkan sebagai profesor riset di kantor Lapan Jakarta.

Menurut Thomas, fenomena aktivitas puncak matahari sebelumnya diperkirakan terjadi pada 2011, namun titik minimumnya bergeser sehingga diperkirakan terjadi pada 2012. Namun, sekarang pun ada pergeseran lagi sehingga kemungkinan terjadi pada 2013.

Secara alamiah, tegas Thomas, tidak ada yang istimewa karena itu merupakan siklus 11 tahunan. "Terakhir terjadi pada 1989 kemudian pada 2000, dan nanti 2012 atau 2013 akan terjadi lagi."

Orang kemudian mengkhawatirkan terjadi badai matahari, padahal tidak akan ada badai matahari dahyat yang menimbulkan dampak parah.

Badai matahari pada dasarnya adalah fenomena bumi yang sering terjadi bukan saja saat aktivitas matahari mencapai puncak, tetapi saat aktivitas mulai naik hingga turun lagi tetap ada badai matahari.

Artinya memang frekuensi kejadiannya lebih banyak pada saat puncak. Tetapi, menurut Thomas, kekuatan terbesarnya belum tentu pada saat puncak. Sering kali yang paling kuat justru setelah puncak.

"Katakan puncak yang lalu terjadi di 2000, tetapi aktivitas matahari yang paling besar, yang paling kuat justru terjadi pada 2003," katanya.

Perbincangan fenomena aktivitas matahari ini juga berkembang, yang kemudian dikaitkan lagi dengan seolah-olah akan ada tumbukan komet.

"Itu juga secara astronomi tidak ada buktinya. Tidak ada informasi atau perkiraan akan ada komet besar yang menabrak bumi pada 2012. Kemudian ada lagi yang memperkirakan ada planet Nibiru, padahal planet Nibiru tidak dikenal dalam astronomi," jelas Thomas.

Berbagai perbincangan mengenai fenomena 2012, seperti seolah-olah berdasarkan teori astronomi ada asteroit besar yang akan menghantam bumi, sama sekali tidak punya dasar atau tidak ada alasan astronominya.

"Jadi pada dasarnya kekhawatiran 2012 lebih banyak terkait dengan penafsiran ramalan suku Maya, dan oleh ketua suku Maya sendiri sudah menyatakan bahwa 2012 bukan akhir dan itu hanyalah pergantian item kalender yang biasa," kata dia.

Menurut Thomas, dampak dari badai matahari yang ditimbulkan dari percikan partikel matahari dan menimbulkan medan magnit itu selama ini hanya berdampak pada keberadaan satelit di orbit dan terhadap transformer fasilitas jaringan listrik.

Badai matahari dapat menimbulkan induksi ke fasilitas jaringan listrik sehingga terjadi kelebihan beban dan bisa menyebabkan trafo meledak atau terbakar. Sampah Antariksa Dalam orasi ilmiahnya pada pengukuhannya sebagai profesor riset bersama Dr Ir Chunaeni Latief Msc, Thomas juga menyatakan bahwa wilayah Indonesia yang dilalui garis ekuator cukup panjang rentan menjadi tempat jatuhnya sampah antariksa yang sekarang kian banyak.

"Sampah antariksa semakin lama semakin banyak. Yang terpantau oleh sistem jaringan pemantau internasional ada sekitar 13 ribu lebih dan ancamannya bisa mengganggu satelit aktif. Dan salah satunya pernah, sampah antariksa bekas satelit Rusia menabrak satelit aktif karena semakin banyak satelit di antariksa kemungkinan bertabrakan semakin besar," katanya.

Indonesia yang berada di garis ekuator memiliki kemungkinan lebih besar untuk terkena risiko jatuhnya sampah antariksa dibanding kawasan lain. Oleh karena itu Indonesia harus selalu waspada karena berada pada wilayah yang sering dilalui orbit satelit.

Hal itu harus menjadi perhatian Lapan dalam memberikan pelayanan informasi potensi bahaya benda jatuh dari antariksa sehingga kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dapat dinetraliskan, demikian Thomas Djamaluddin.

Bersama Thomas, peneliti Lapan Dr Ir Chunaeni Latief Msc juga dikukuhkan sebagai profesor riset dalam bidang Opto Elektronika dan Aplikasi Laser. Dalam orasinya ia lebih mencermati kandungan dan efek emisi gas rumah kaca (CO2) dan pemanfaatan instumensi Satklim LPN-1A untuk penelitiannya yang bermanfaat bagi dunia penerbangan, dan kajian pemanasan global.

Support

Nyang baca si korannya koran myspace web counter
web counter code orang Lho!!