Pages

Minggu, 13 Desember 2009

Menyenangkan, Tiga Jam Tanpa Kendaraan Berseliweran


Bersama ibunya, Iham (10), siswa kelas lima sekolah dasar yang tinggal di Babakan Pasar, Bogor Tengah, Kota Bogor, Minggu (13/12/2009) pagi, menikmati udara pagi sambil berjalan nyeker di Jalan Jalak Harupat, Kota Bogor.

"Mudah-mudahan setiap Minggu, ya Bu," kata Iham.

Sang ibu, yang menenteng sandalnya karena kelingking kaki Iham lecet, hanya tersenyum. Anak dan ibu itu tengah asyik menikmati jalan kaki di tengah-tengah Jalan Jalak Harupat.

Iham dan ibunya, bersama ratusan warga Bogor lainnya, Minggu pagi ini sekitar tiga jam, memang dapat menikmati asyiknya berjalan-jalan di salah satu jalan utama Kota Bogor, yakni Jalan Jalak Harupat. Tanpa khawatir terserempet kendaraan. Sebab, pagi itu untuk pertama kalinya di Kota Bogor diterapkan Hari Tanpa Kendaraan (car free day). Meski hanya berlangsung sekitar tiga jam, mulai pukul 06.00, bukan sehari penuh. Itu pun hanya sepanjang Jalan Jalak Harupat dan Jalan Halimun serta sebagian Jalan Salak dan Jalan Pangrango.

Namun, paling tidak keinginan Iham agar setiap Minggu dapat jalan di situ tanpa takut terserempet kendaraan akan terwujud. Sebab, Kepala Satuan Lalu Lintas Kota Bogor Ajun Komisaris Ari Purwantono memastikan, program Hari Tanpa Kendaraan (HTK) akan berlanjut setiap Minggu.

"Program ini akan terus kami gulirkan. Tapi, kemungkinan HTK menjadi sehari penuh tiap Minggu, rasanya sulit. Sebab, banyak wisatawan domestik dari luar Bogor yang banyak berkunjung ke sini, yang kepentingannya juga perlu kita akomodasi," ujarnya.

Menurut Ari Purwantono, program HTK itu salah satu aksi nyata yang dilaksanakan Polres Kota Bogor berkaitan dengan program 100 hari kerja dari Mabes Polri, dalam hal ini program Babinkamtibmas.

"Kami ingin berpartisipasi aktif menyosialisasikan perlunya udara bersih dan tertib berlalu lintas, demi kesehatan dan kenyamanan masyarakat di lingkungannya," tutur Ari.

Dia berharap Pemerintah Kota Bogor dan masyarakat Bogor akan mendukung penuh. Saat ini pelaksanaan HTK menjadi tangung jawab sepenuhnya Polres Kota Bogor, dibantu secukupnya dari Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishub Kominfo) Kota Bogor dan Organda Kota Bogor.

Pada HTK pertama ini, Kompas tidak melihat kehadiran Wali Kota Bogor Diani Budiarto dan Kepala Dishub Kominfo HA Syarief. Yang terlihat berkeliling dengan sepedanya adalah Sekretaris Daerah Kota Bogor Bambang Gunawan ditemani Ari Purwantono.

Yang bergembira bersepeda lainnya adalah Kepala Kantor Kesbang Kota Bogor Endang M Kendana, yang bersepeda onthel. Dia memimpin rombongan Bogor Onthel Community, melintasi Jalan Jalak Harupat satu rit, dari depan gerbang utama Istana Bogor sampai persimpangan Internusa samping rumah dinas Wali Kota Bogor di Jalan Pajajaran.

Sedangkan Kepala Polres Kota Bogor Ajun Komisaris Besar Nugroho S Widodo bersama wakilnya Komisaris Arief Rachman terlihat memutari Lapangan Sempur, juga dengan sepeda masing-masing.

Empat remaja putri warga Jalan Malabar, Bogor Tengah, menyatakan senang dapat berlenggang kangkung dan bergurau di tengah jalan raya.

"Kami hampir setiap Minggu pagi jalan kaki dari rumah main ke Lapangan Sempur. Baru kali ini merasa lebih nyaman untuk ke sini karena enggak ada mobil lewat. Enggak berisik suara mobil. Udara kayaknya juga lebih bersih, ya," kata Nawa, salah seorang dari mereka, yang ditemui tengah bersendau gurau di Jalan Halimun.

Sementara seorang remaja, yang mengaku dari Leuwiliang, nongkrong murung dengan peluit putih di tangannya, di bawah pohon di persimpangan Jalan Halimun itu. Tas ransel hitamnya digantung di cabang pohon. Mobil belum ada yang lewat.

"Enggak boleh lewat oleh polisi, jadi saya juga belum dapat duit. Biasanya pagi begini sudah dapat Rp 5.000," kata remaja pak ogah itu sedih.

Yang agak sedih karena berlakunya HTK lainnya adalah Ny Mariyah, pedagang nasi pecel yang biasa mangkal di Lapangan Sempur setiap Minggu pagi.

"Saya enggak tahu mulai pukul 06.00 angkot enggak boleh lewat. Saya jadi kecapean menenteng barang-barang dan dagangan dari depan Istana ke sini. Gara-gara kendaraan enggak boleh masuk, yang main ke lapangan juga sepi. Jam segini biasanya dagangan saya sudah tinggal sedikit, sekarang masih banyak," kata perempuan paruh baya asal Solo itu, sekitar pukul 08.00.

Barangkali karena hari pertama HTK, memang warga Bogor penggemar olahraga atau jalan-jalan pagi di Lapangan Sempur sepanjang HTK tidak banyak yang turun ke lapangan. Kerumunan dan berbagai aktivitas mereka terlihat membeludak di badan Jalan Jalak Harupat. Sebab, mumpung ada kesempatan dapat lari-lari, bermain-main, dan mengobrol di pinggir atau tengah jalan, tanpa takut ditabrak mobil atau motor.

Mudah-mudahan saja HTK dapat diperpanjang jam berlangsungnya dan luas jangkauannya. Sebab, asyik sekali jika bisa bersepeda atau jalan kaki mengelilingi seputar Kebun Raya Bogor, tanpa khawatir diseruduk kendaraan dan kesal karena naik turun trotoar tinggi tidak karuan.

Artinya, HTK diberlakukan di Jalan Jalak Harupat, Jalan Ir Juanda, Jalan Otto Iskandar Dinata, dan Jalan Pajajaran, yang mengelilingi kebun istimewa milik orang Bogor itu.

"Yang kayak gini (HTK) kan meniru Jakarta. Tapi di sana tidak punya Kebun Raya. Harusnya mobil enggak boleh lewat di jalan sekeliling Kebun Raya. Jadi, (HTK) Bogor bisa lebih keren dari Jakarta," kata Lusi, remaja SMA yang tinggal di Sempur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Support

Nyang baca si korannya koran myspace web counter
web counter code orang Lho!!