
Penyakit ini dipicu stress karena resesi global yang mempengaruhi pendapatan penduduk.
Sedikitnya satu di antara lima orang Taiwan menderita insomnia akibat stres dan krisis ekonomi. Peneliti menyatakan angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia.
Survei yang melibatkan 4.005 orang di Taiwan baru-baru ini menemukan 21,8 persen penduduk Taiwan memiliki masalah tidur akut.
"Persentase penderita insomnia di Taiwan lebih tinggi dibandingkan persentase dunia, sekitar 10-15 persen," ujar Dokter Lee Hsin-Chien, seperti dikutip Strait Times. Direktur Psikiatri di Rumah Sakit Shuang-Ho Taipei ini menyebutkan jumlah penderita insomnia di Taiwan sepanjang 2009 meningkat drastis dibandingkan 2000 lalu yang mencapai 10 persen.
Tingkat stres penduduk Taiwan naik karena resesi global mempengaruhi pendapatan penduduk. Bisa dimaklumi, karena Taiwan dikenal sebagai salah satu negara pengekspor terbesar di Asia. Lee menyatakan stres memicu penyakit diabetes, tekanan darah tinggi dan depresi. Semua faktor tersebut meningkatkan potensi insomnia. Di sisi lain, gaya hidup tidak sehat menurunkan derajat kesehatan juga dipandang sebagai pemicu insomnia.
Taiwan memasuki masa resesi bersama Jepang, Hong Kong dan Singapura sejak awal tahun 2009. Selama krisis global, permintaan dan ekspor menurun secara drastis. Akibatnya, pengusaha terpaksa memecat sebagian karyawan. "Kami memang menduga jumlahnya (penderita insomnia) tinggi, tapi tidak menyangka akan setinggi itu," kata Lee.
Dia menambahkan, ada banyak faktor yang menyebabkan insomnia diantaranya stres atau kualitas kesehatan orang bersangkutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar